Tuesday, May 18, 2010

Pelantikan

Pelantikan

Kata dasar pelantikan adalah lantik, berakar pada bahasa Melayu bermakna ’bengkok’ alias ’tidak lurus’. Entah bagaimana kemudian peran kata lantik berkembang menjadi dasar kata kerja melantik dan kata benda pelantikan yang maknanya bergeser ke bentuk perilaku ritual.
Oleh: Jaya Suprana
Sementara pemangku profesi yang dipandang tidak terlalu penting, padahal sebenarnya cukup penting, dianggap tidak perlu dilantik. Dapat dibayangkan kekacauan sosial yang terjadi apabila tiada profesi penyapu jalan, pengeruk tinja, penghimpun sampah, pemulung, sampai ke penggali liang kubur akibat dipandang tidak penting, terbukti para beliau tidak pernah dilantik, apalagi melalui upacara pelantikan.
Pandawa Samrat
Di antara segenap makhluk hidup di marcapada ini, hanya jenis Homo sapiens yang berperilaku lantik-melantik, maka sejak dahulu kala upacara pelantikan memang sudah asyik diselenggarakan. Semisal tersurat dalam kisah Mahabharata episode Pandawa Samrat di mana keluarga Pandawa menyelenggarakan upacara pelantikan Yudhistira menjadi raja kerajaan Indraprasta yang baru saja didirikan oleh keluarga Pandawa setelah menyelesaikan masa buangan di rimba belantara. Menarik adalah dampak upacara pelantikan (yang bagi kaum monarki disebut penobatan) pesulung Pandawa itu ternyata lebih banyak mudarat ketimbang manfaatnya.
Terhadap suatu upacara pelantikan selalu ada saja yang tidak setuju atau dengki sampai memuncak ke ledakan amarah. Diawali terbunuhnya Supala oleh Kresna akibat sang titisan Wisnu merasa dihina di depan umum sampai ke delegasi Kurawa walk-out akibat tidak tahan menahan tekanan rasa dengki dan benci. Dampak skandal upacara pelantikan itu memuncak sampai ke pertumpahan darah Bharatayudha, perang antarketurunan Bharata di padang Kurusertra yang membasmi habis keluarga Kurawa.
Dapat disimpulkan bahwa tanpa pelantikan Yudhistira mungkin tidak ada Bharatayudha. Namun, sejarah membuktikan, dampak apa pun yang terjadi, ternyata umat manusia tidak pernah kapok menyelenggarakan upacara pelantikan.
Wisuda
Gelombang semangat pelantikan menggelora masuk ke dunia pendidikan dalam bentuk apa yang disebut sebagai upacara wisuda. Semula yang dilantik adalah para guru besar, tetapi kemudian merosot ke para mahasiswa tingkat S-3 sampai S-1, lalu makin merosot ke siswa lulus SLTA, lalu SLTP, lalu SD, bahkan lulusan taman kanak-kanak sampai playgroup dianggap perlu diwisuda lengkap dengan segala atribut khusus yang janggal apabila dikenakan sehari-hari.
Biaya untuk bisa ikut dilantik di upacara pelantikan dunia pendidikan yang disebut wisuda itu tak bisa diingkari pasti makin memperberat beban biaya pendidikan bagi para siswa, apalagi mahasiswa yang tanpa upacara wisuda sebenarnya sudah amat berat. Nasib para siswa dan mahasiswa Indonesia ”sudah jatuh tertimpa tangga”. Konon tanpa ikut upacara wisuda, para siswa dan mahasiswa tidak berhak memperoleh secarik kertas yang disebut ijazah.
Upacara wisuda beda dengan upacara pelantikan anggota legislatif. Para anggota DPR dan DPD yang akan dilantik bukan membayar, tetapi dibayar, mulai dari perjalanan dari domisili masing-masing ke lokasi upacara di Jakarta, akomodasi di hotel mewah lengkap dengan konsumsi yang tentu juga mewah, uang saku, pengadaan tas untuk anggota Dewan, buku profil anggota DPR-DPD terpilih, pengadaan seragam, serta biaya untuk panitia, sampai entah apa lagi hingga jumlahnya sedemikian fantastis hingga sulit dibayangkan oleh rakyat jelata yang harta bendanya tidak sampai jutaan, apalagi miliaran, apalagi triliunan, atau bahkan puluhan triliunan rupiah.
Mungkin ini semua akibat adanya kekhawatiran para wakil rakyat yang dipilih oleh rakyat itu mustahil sudi menunaikan tugas (yang sebenarnya telah mereka janjikan kepada rakyat agar mereka dipilih oleh rakyat!) apabila mereka tidak secara resmi dilantik melalui upacara pelantikan dengan anggaran bermiliar-miliar rupiah. Padahal, pada masa pemilu dijamin tidak ada caleg yang mengajukan syarat hanya sudi bertugas sebagai wakil rakyat asal dilantik melalui upacara pelantikan dengan biaya minimal sebelas miliar rupiah. Kalau ada, pasti tidak terpilih!
Nurani
Murah atau mahal adalah nisbi sebab lekat terkait pada selera dan tafsir subyektif. Sebelas miliar rupiah mungkin tidak ada artinya bagi para pengambil keputusan negara dan bangsa kita tercinta yang kebetulan setiap hari minimal menerima atau mengeluarkan dana bernilai jauh lebih besar, sehingga nilai miliar langsung terkesan kecil.
Namun, coba kita bertanya kepada teman-teman yang berdomisili di tepi Sungai Ciliwung, kawasan kumuh Marunda, bukit tumpukan sampah, pinggir rel kereta api, para korban lumpur Lapindo di Sidoarjo, gempa bumi Tasikmalaya, anak-anak yatim piatu telantar, atau kaum papa di daerah-daerah yang disebut tertinggal. Setelah mengerti seberapa banyak sebelas miliar, pasti semua setuju apabila anggaran ditekan serendah mungkin atau malah lebih setuju lagi—pada hakikatnya tidak ada rakyat yang membutuhkan upacara pelantikan anggota legislatif—apabila anggaran berlimpah itu digunakan untuk membangun rumah, sekolah, atau rumah sakit bagi kaum papa.
Para ilmuwan aliran paham kapitalisme pasti sigap menuding ungkapan suara hati nurani rakyat semacam itu sekadar kinerja hasutan antek-antek ajaran sosialisme atau komunisme, bahkan anarkisme, padahal duduk permasalahan tidak perlu ditafsirkan sepolitis itu. Duduk permasalahan sebenarnya jauh lebih sederhana, yakni kemampuan dan kemauan untuk tulus mendengar suara dari lubuk nurani yang terdalam.

Jaya Suprana, Budayawan
Sumber: Kompas, Sabtu, 12 September 2009

kabinet

Pada masa ‘orde baru’ dua ekor anjing berjumpa, ”Apa kabar?” Dijawab, ”Cari makan susah!” Pada masa reformasi mereka kembali berjumpa, ”Apa kabar?” Dijawab, ”Cari makan tetap susah, tetapi kini saya bebas menyalak.”
Saya sadar, sedikit pun tidak memiliki pengaruh terhadap hak prerogatif presiden menyusun kabinet. Maka, saya menulis naskah ini sekadar sebagai ungkapan pendapat pribadi, mumpung sudah tidak ada menteri penerangan memberedel koran. Ibarat seekor anjing menyalak, mumpung bebas menyalak, tetapi sadar kafilah akan tetap berlalu.
Oleh Jaya Suprana
Secara keseluruhan, kabinet yang habis masa baktinya sudah berkinerja bagus, terutama kinerja para menteri perempuan. Menteri kesehatan berani dan tegas mengambil keputusan, termasuk yang tidak populer demi menanggulangi berbagai permasalahan pelayanan kesehatan rakyat Indonesia dengan cara Indonesia sendiri. Secara keseluruhan, mutu pelayanan kesehatan dapat dinilai membaik, kecuali di kawasan pelosok masih perlu ditingkatkan. Terakhir, menkes dengan gagah berani mempertanyakan hilangnya klausa tembakau dari UU Kesehatan.
Menteri perdagangan sangat bersemangat mengembangkan ekonomi kreativitas yang hasilnya dapat dirasakan secara nyata, seperti halnya kenaikan tiras penjualan batik berkat dukungan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata hingga UNESCO. Mendag yang doktor ekonomi ini giat turun ke lapangan meninjau arus dan alur gerak perdagangan, mulai dari hulu sampai hilir. Perdagangan ke luar negeri juga digenjot melalui Badan Pengembangan Ekspor Nasional. Andaikata saya menjadi presiden, saya akan bilang ”lanjutkan!” kepada menteri perdagangan demi menuntaskan jerih payah perjuangan menempuh deru campur debu bepercik keringat, air mata, dan darah menuju masyarakat yang lebih adil dan makmur.
Apalagi menteri keuangan yang kini merangkap menteri koordinator perekonomian itu jelas tidak perlu diragukan kesaktimandragunaannya. Tentu tidak sembarangan apabila media internasional menobatkan sebagai salah seorang menteri keuangan terbaik di dunia masa kini. Di ujung akhir masa jabatan mendadak ada noda kisruh penyaluran dana ke sebuah bank yang semoga jangan menjadi setitik nila merusak susu sebelanga. Selama kekeliruan terbatas prosedur administratif, maka tiada alasan tidak memberi kesempatan bagi perempuan perkasa ini melanjutkan ikhtiar pembenahan keuangan negara.
Pemberdayaan perempuan
Putri sulung proklamator kemerdekaan memang mewarisi kearifbijaksanaan sang ayah. Menteri negara pemberdayaan perempuan secara arif bijaksana berusaha memberdayakan kaum perempuan Indonesia yang sebenarnya sudah tidak perlu diberdayakan lagi sebab sudah sangat berdaya, terbukti pada diri sang menteri sendiri maupun pada sekian banyak perempuan Indonesia yang telah berhasil menjadi pengusaha, cendekiawan, seniman, budayawan, politisi terkemuka, sampai wakil presiden yang kemudian menjadi presiden.
Kementerian yang didirikan Pak Harto pada masa Orde Baru untuk menyenangkan Ibu Tien dan para perempuan Indonesia, yang secara politis penting sebab jumlahnya lebih besar ketimbang para lelaki, sebenarnya di masa kini anakronis sebab pada kenyataan kaum perempuan Indonesia masa kini sudah berdaya bahkan paling berdaya dibandingkan dengan negara-negara berkembang maupun yang disebut maju di dunia masa kini.
Amerika Serikat saja terbukti masih belum berhasil mengangkat harkat dan martabat warga perempuannya menjadi presiden gara-gara Barack Obama. China, Jepang, Korea, apalagi Arab Saudi dalam hal pemberdayaan perempuan jauh tertinggal ketimbang Indonesia. Betapa indah apabila menteri negara pemberdayaan perempuan ”ditingkatkan” menjadi menteri keluarga. Departemen yang mengurusi keluarga tidak terbatas mengurusi kaum perempuan belaka, tetapi juga anak-anak dan kaum lelaki sebagai suami sang perempuan dan ayah sang anak-anak. Dengan mengganti menteri negara pemberdayaan perempuan menjadi menteri keluarga, dengan sendirinya paham diskriminasi jender di Indonesia akan makin luntur sebelum lenyap sama sekali.
Sementara Kak Seto tentu tidak keberatan jika departemen keluarga dilengkapi direktorat jenderal yang fokus melindungi hak-hak anak-anak Indonesia. Menjunjung tinggi kepentingan keluarga benar-benar sangat penting mengingat keluarga adalah soko guru negara dan bangsa. Menteri negara pemberdayaan perempuan yang sekarang ini adalah tepat untuk ditugaskan menteri keluarga.
Menteri kebudayaan
Sebagai pemerhati kebudayaan, saya pribadi senang jika ada menteri kebudayaan. Namun, istilah kebudayaan pada hakikatnya terlalu luas, mendalam, kompleks, dan rumit apalagi dalam skala kenegaraan Nusantara untuk mampu diurus oleh seorang menteri. Makna kebudayaan yang tepat dan benar bukan terbatas hanya kesenian, tetapi seperti menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi mutakhir adalah hasil kegiatan dan penciptaan (akal budi) manusia, seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat atau secara antropologis bisa juga bermakna keseluruhan (!) pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya.
Berdasarkan makna secara umum maupun ilmiah, maka jangkauan kebudayaan merambah masuk ke bidang agama, sosial, iptek, ekonomi, militer, pendidikan, bahkan segenap bidang kehidupan masyarakat yang sebenarnya masing-masing sudah ada menterinya. Dikhawatirkan menteri kebudayaan tumpang tindih bahkan bertabrakan dengan menteri agama, pertahanan, sosial, ristek, pariwisata, pendidikan, keluarga, ekonomi, keuangan, perdagangan, komunikasi, perhubungan, dan lainnya.
Sebenarnya tugas kebudayaan sudah diemban presiden yang bertanggung jawab atas segenap aspek kehidupan masyarakat sebuah negara dan bangsa. Kecuali apabila tugas menteri kebudayaan memang sengaja (keliru) dibatasi hanya kesenian, maka silakan saja. Sebab, sampai saat ini kesenian memang masih dianaktirikan dalam hal kementerian. Dengan satu syarat, wewenang sang menteri yang mengurus kesenian wajib terbatas fasilitator, jangan sampai menjadi regulator apalagi diktator.

Jaya Suprana Budayawan
Sumber: Kompas, Sabtu, 17 Oktober 2009

kiamat (the movie)

Artikel ini bukan promosi film 2012. Tanpa dipromosikan pun, film itu sudah luar biasa laris.
Bahkan, penonton sampai sudi bersusah payah antre berkepanjangan demi memperoleh tanda masuk untuk menonton film tentang kiamat yang tersurat dan tersirat pada nubuat kebudayaan Maya. Film yang dirilis sejak 13 November 2009 ke seluruh dunia itu langsung merebut kedudukan tertinggi dengan perolehan 65 juta dollar AS, hanya dalam waktu dua hari.
Kritik
Sebenarnya para kritikus film menilai film kolosal tentang mahabencana pengiamat Planet Bumi itu dengan nilai tidak terlalu positif, bahkan cenderung menganggap makna film sekadar hiburan hampa-makna yang tidak perlu dianggap serius. Bahkan, ada yang tega bilang, hanya orang dungu yang senang menonton film kiamat itu.
Oleh Jaya Suprana
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Malang pun mengeluarkan fatwa, film 2012 menyesatkan sebab mengambil alih hak Yang Mahakuasa untuk menentukan saat kiamat.
Namun, publik tampaknya sama sekali tidak peduli atas apa pun yang dihujatkan pada film 2012 itu. Terbukti di seluruh dunia, termasuk Indonesia, mereka berduyun-duyun ingin menyaksikan film tentang kiamat, yang tidak bisa memang digarap dengan teknik grafis komputer yang monumental dan spektakuler seperti film-film disaster terdahulu karya Roland Emmerich yang berasal dari Jerman itu.
Saya pribadi sempat berjumpa dengan sutradara yang enam tahun lebih muda ketimbang saya semasa studi di Jerman. Pada masa itu, Roland Emmerich memang sudah dianggap sebagai salah seorang calon bintang di dunia perfilman Jerman, tetapi lebih berada di jalur seni murni, seperti Fassbinder atau Wenders, ketimbang komersial apalagi di jalur Hollywood.
Setelah menghamburkan dana ayahnya untuk film komersial perdana The Noah’s Principle, sebagai film termahal yang pernah dibuat seorang mahasiswa Jerman, Emmerich langsung hijrah ke Hollywood untuk mulai menggebrak pasar perfilman dunia dengan Universal Soldier dan Stargate yang ternyata disukai penggemar film kuasi-fiksi-ilmiah Hollywood.
Setelah itu, Emmerich tidak mengomersialkan film bersuasana malapetaka seperti Godzilla, Independence Day, dan The Day after Tomorrow, yang menjadi citra diri sutradara Jerman yang tampaknya gemar mencipta suasana mahaprahara malapetaka armagedonal.
Seperti semua film malapetaka, pada hakikatnya isi film 2012 sekadar permainan imajinasi sang penggagas kisah dan sutradara yang sulit masuk akal sehat yang wajar-wajar belaka.
Kiamat
Dalam sejarah kebudayaan umat manusia, kiamat sudah sering diramalkan pada suatu titik-saat tertentu dan akan memusnahkan Planet Bumi. Juga sudah sering terbukti, ramalan itu sama sekali tidak terjadi.
Secara paradoksal, di satu sisi tidak ada manusia yang waras-pikir menghendaki kiamat terjadi. Namun, di sisi lain ada semacam naluri primordial atau yang disebut Jung sebagai gejala archetype mengendap di lubuk nurani manusia yang yakin kiamat pasti akan terjadi dan di masa hidup dirinya sendiri. Yang jelas, kiamat merupakan salah satu produk yang potensial dimanfaatkan para pengkhotbah agar jemaah menaati ajaran yang dikhotbahkan.
Dari aspek tujuan, menakuti- nakuti orang agar takut berbuat jahat dan aib jelas positif, bahkan konstruktif. Namun, celakanya, sempat pula terjadi para penganut kiamatisme begitu ketakutan kiamat akan benar-benar terjadi, maka sebelumnya ramai-ramai bersama bunuh diri.
Mengenai kiamat benar-benar akan terjadi, sulit dibantah. Namun, apakah harus pada musim dingin 2012? Belum lagi harus dirinci musim dingin di mana sebab masa musim dingin di Australia berbeda dengan di AS.
Secara imaniah maupun logika tidak bisa dimungkiri, mungkin saja kiamat akan benar-benar terjadi. Misalnya, apabila ada meteor yang ukurannya cukup memadai, mendadak menabrak Planet Bumi tanpa terbendung oleh lapisan-lapisan sfere yang memperisai bola dunia ini. Atau bisa saja seperti dikatakan Al Gore, kiamat akan terjadi bertahap, lambat tetapi pasti akibat sikap dan perilaku manusia yang potensial mengiamatkan marcapada ini. Namun, masalah yang tidak pernah jelas adalah kapan kiamat itu benar-benar akan terjadi. Sebab, meski sudah berulang kali dijadwalkan, terbukti selalu meleset. Terbukti kini saya masih bisa menulis naskah yang sedang Anda baca ini!
Tampaknya kiamatisme sudah menjadi bagian integral naluriAngst makhluk hidup jenis Homo sapiens dalam suasana harap-harap cemas yang lebih cenderung mengharap tidak terjadi kecuali oleh kaum fatalis yang sedemikian benci manusia, hingga ingin menghukum bahkan membasmi habis manusia padahal dirinya sendiri juga manusia.
Jahanam seperti Hitler sebenarnya sudah menghadirkan kiamat dalam skala terbatas bagi kaum Yahudi. Sementara Roland Emmerich menyadari dan berhasil memanfaatkan naluri kiamatisme untuk menjual produk film-film mahamalapetaka.
Maka, meski dicemooh sampai dibilang hanya orang dungu yang senang menonton 2012, tidak ada yang peduli terbukti. Semua berbondong-bondong antre untuk menonton film dungu itu! Biar dungu asal asyik! Langsung 2012 nangkring di jenjang teratas film terlaris di dunia, termasuk di Indonesia, masa kini meski—atau justru akibat—sudah dilarang ditonton oleh MUI.
Seperti halnya dulu Inul, malah laris manis setelah goyangnya diharamkan. Terlepas suka tak suka, sebenarnya tetap ada hikmah bisa dipetik dari film kiamat itu, yakni mensyukuri betapa indah dunia ini apabila tidak kiamat.

Jaya Suprana, Budayawan
Sumber: Kompas, Sabtu, 21 November 2009